Mengintip Kinerja Bukopin di Tengah Isu Tarik Dana yang dibatasi

PT Bank Bukopin Tbk saat ini sedang diterpa isu pembatasan penarikan dana atau simpanan bagi nasabah nasabahnya. Isu tersebut bermula dari keluhan nasabah kebijakan bank tersebut. Menurut sejumlah nasabah yang mengeluhkan hal tersebut Bank Swasta tersebut meminta nasabah nasabahnya melakukan konfirmasi sejak dua hari sebelum penarikan alias H-2 penarikan dana.

Nasabah Keluhkan Kebijakan Bukopin 

Seperti yang diberitakan sebelumnya bahwa Bank Bukopin meminta para nasabahnya untuk melakukan konfirmasi terlebih dahulu paling tidak dua hari sebelum penarikan dana. Terutama, bagi para nasabah yang ingin menarik dana sebanyak lebih dari Rp.10 juta mulai 2 Juni 2020 yang lalu.

“Ada apa dengan Bank Bukopin? Kenapa nasabah nggak bisa ambil duit? Bagaimana Dengan Bank yang lainnya?  BPD Banten, Mayapada, dll?” tulis salah seorang nasabah yang bernama Haris Rusly Moti lewat akun Twitter pribadinya @motizenchannel.

Akan tetapi Bank Bukopin langsung membantah isu tersebut. “Dengan ini, manajemen memastikan bahwa tak ada kebijakan internal perseroan terkait hal tersebut,” ungkap manajemen lewat keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) tepatnya hari Rabu (10/6).

Kinerja Bank Bukopin 

Kemudian banyak pihak yang bertanya-tanya bagaimanakah kinerja Bukopin, sebuah bank yang masuk dalam kategori BUKU II  karena memiliki modal inti di atas Rp.5 Triliun?

Menurut data yang dilansir dari CNN Indonesia, berdasarkan laporan bandar darat keuangan Bank Bukopin bulan April 2020 yang mana dipublikasikan, tercatat bahwa total asetnya mencapai Rp. 92.44 Triliun. Aset-aset tersebut terdiri dari jumlah kas sebesar Rp. 855,61 miliar. Kemudian aset yang lainnya terdiri dari penempatan dana di Bank Indonesia sebesar Rp. 4,25 Triliun, penempatan dana di bank lain sebesar Rp. 690,87 miliar, kemudian ada surat berharga yang dibeli dengan janji dijual kembali atau repo dengan jumlah Rp.8 ah,84 triliun dan surat berharga Rp. 1 Triliun. 

Sementara untuk Cadangan Kerugian Penurunan Aset (CKPN) kira-kira berkisar di jumlah Rp. 1,69 triliun. 

Jika dilihat dari sisi likuiditas, maka Bank Bukopin sejatinya masih memiliki ruang likuiditas. Hal ini pasalnya tercermin dari posisi rasio penyaluran kredit dan juga total dana yang dimiliki oleh mereka (Loan to Deposit Ration/LDR) yang besarnya mencapai Rp. 90,92%.

Sumber likuiditas bank pasalnya berasal dari giro yang besarnya Rp. 8,45 Triliun, kemudian besarnya tabungan yaitu Rp. 17.76 T,  dan juga deposito sebesar Rp. 41,89 T. Ada juga yang berasal dari pinjaman bank sebesar Rp.1,53 triliun kemudian ada juga utang atas repo surat berharga yang besarnya mencapai Rp. 8,87 triliun, pinjaman sebesar Rp 702, 68 miliar dan ada surat berharga yang diterbitkan sebesar Rp.1,79 triliun.

Menurut data yang dilansir dari CNN Indonesia, diperoleh data berdasarkan kinerja penyaluran kredit perbulan Maret 2020, total kredit yang disalurkan sebanyak Rp.6,44 Triliun atau tumbuh 2,56% pada Kuartal 1 tahun 2020 dari Kuartal 1 2019 yang lalu.kemudian dana pihak ketiga (DPK) meningkat sebanyak 2,28% menjadi Rp. 77,89 triliun.

Masih ada rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) gross yang meningkat dari yang sebelumnya hanya 5,23% menjadi 5,33%. Sedangkan, NPL kan net an-nur undari yang tadinya , 45% menjadi 3,4% saja. data NPL tersebut berdasarkan laporan kinerja tidak diaudit per 31 Maret 2020.