Nasabah Jiwasraya Tuntut Dana pada Sri Mulyani

Kabar datang dari kelanjutan kasus Jiwasraya. Para nasabah gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya (Persero) meminta janji secara tertulis dari Menteri Keuangan Sri Mulayani mengenai rencana pembayaran tunggakan polis jatuh tempo yang mana dijanjikan pemerintah. Janji tertulis itu ‘ditagih’ oleh para nasabah karena mereka tidak mau pemerintah mengulur-ulur lagi pembayaran dana Jiwasraya.

Nasabah-Nasabah Tagih Pemerintah

Sebelumnya, Erick Thohir selaku Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berjanji akan mulai membayarkan cicilan klaim jatuh tempo para nasabah di akhir maret nanti. Akan tetapi, salah satu nasabah Jiwasraya bernama Haresh Nandwani menilai bahwa perkataan Erick ini cenderung tak konsisten. “Sebelumnya, kami berterima kasih pada Pak Erick yang mengatakan Maret mau bayar. Tetapi kalau diperhatikan omongannya tidak konsisten, berubah-ubah. Ada kapan dia mengatakan awal Februari, nanti jadi akhir Februari, nanti jadi Maret. Kami minta suatu kepastian kapan mau dibayar dan dikasih hitam di atas putih saja,” ungkapnya Kamis (6/2) dilansir dari CNN Indonesia.

Dengan janji tertulis ini, ia berharap bahwa nasabah dapat mendapatkan sebuah kepastian yang mana seagian besar bakal menggunakan dana togel singapore 2020 itu untuk berbisnis. Mereka mengaku ingin mendapatkan kepastian sekarang. “Kami semua bisa tenang bisa melanjutkan usaha kami, sekarang ini semua usaha kami terhenti,” lanut Haresh.

Dalam kesempatan yang sama juga, nasabah Jiwasraya yang lainnya, Muslim Baya, meminta pada Sri Mulyani untuk ikut memberikan kepastian pada nasabah terkait dengan pembayaran polis nasabah. Untuk menindaklanjutinya, sebanyak 50 orang nasabah mendatangi langsung kantor Kementerian Keuangan pad hari Kamis (6/2) kemarin.

“Pak Erick menyampaikan di DPR setelah rapat panja, ada kata Pak Erick menunggu persetujuan dari ibu menteri (Sri Mulyani), makanya kami sekarang sangat berharap bisa ketemu ibu menteri itu sudah sampaikan atau belum,” katanya.

Ida Tumtoma, nasabah lainnya dari Jiwasraya juga menyampaikan aspirasinya. Ia berharap janji yang disampaikan Erick itu bukan Cuma sekedar janji belaka. Pasalnya, menurut perkataan dari Erick pembayaran dana nasabah itu masih memerlukan berbagai macam proses, termasuk juga persetujuan dari Menteri Keuangan Sri Mulyani.

“Katanya harus persetujuan menteri keuangan, katanya lagi mungkin dicicil, katanya lagi ada batasan yang dibayar, sehingga kami bingung yang benar yang mana,” kata Ida.

Aset Jiwasraya Tak Mampu Tutup Kebutuhan Pembayaran Polis

Seperti yang diketahui bersama bahwa Jiwasraya tengah mengalami masalah yang pelik karena likuiditas. Jiwasraya sendiri memerlukan dana paling tidak Rp. 32,89 Triliun untuk memenuhi rasio solvabilitas (RBC0 120%. Tidak Cuma itu, asset perusahaan Cuma tercatat sebesar Rp. 23,26 Triliun. Sementara itu, kewajiban mereka mencapai Rp. 50,5 Triliun. Jadi, hal itu mengakibatkan ekuitas Jiwasraya negative sebesar Rp. 27,24 Triliun.

Kasus Jiwasraya ini juga merambah ranah hukum. Kejaksaan Agung (Kejagung) sendiri telah menetapkan 5 orang tersangka atas ini pada Selasa (14/1) lalu. Dari lima orang tersangka itu, 3 orang di antaranya adalah mantan petinggi Jiwasraya yaitu mantan Direktur Utama Hendrisman Rahim, mantan Kepala Investasi dan Divisi Keuangan Syahmirwan, dan mantan Direktur Keuangan Jiwasraya Hary Prasetyo.

Sedangkan dua orang lainnya adalah dari pohak swasta yaitu Komisaris PT Hanson Tradisional Benny Tjokrosaputro dan juga Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera Heru Hidayat. Akan tetapi, Kejaksaan Agung tak merinci dengan detail apa saja peran masing-masing tersangka itu dalam kasus Jiwasraya yang masih bergulir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *