Mentan Klaim Babi di Sumit Sudah Terjangkit Demam Babi Afrika

Kementerian Pertanian (Kementan) mengakui bahwa penyakit demam babi Afrika (African Swine Fever) sudah masuk ke Indonesia. Demam babi Afrika ini khususnya terjadi di sejumlah kabupaten atau kota provinsi Sumatra Utara (Sumut). Keterangan tersebut pasalnya tertuang dalam Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 820/KPTS/PK.320/M/12/2019. Keputusan menteri itu soal Pernyataan Wabah Penyakit Demam Babi Afrika (African Swine Fever) di beberapa kabupaten atau kota yang ada di Provinsi Sumatera Utara.

Mentan Klaim Demam Babi Afrika Sudah Rambah Sumut

“Kami sudah keluarkan surat untuk mengatakan bahwa memang terjangkit itu (demam babi Afrika). Namun tidak seluruh Indonesia, hanya kabupaten-kabupaten tertentu di Sumatera Utara saja,” ungkap Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo hari Rabu (18/12) kemarin.

Menurut dirinya pemerintah telah mengisolasi sejumlah daerah sebagai salah satu upaya penangangan awal demam babi Afrika. Langkah yang selanjutnya akan dilakukan oleh pemerintah adalah memusnahkan babi-babi yang terjangkit penyakit itu.

“Kalau sudah terjangkit di daerah itu, ya harus dimusnahkan, dikubur,” katanya lagi.

Akan tetapi, Syahrul tidak merinci dengan pasti detail jumlah babi yang mati atau pun dimusnahkan akibat penyakit demam babi Afrika di Sumut itu. Namun yang pasti, katanya, upaya isolasi telah dilakukan sejak 2 minggu yang lalu.

“Saya tidak teknis (angkanya), yang jelas memang sudah terjangkit. Kami tak boleh spekulasi jadi harus ambil sikap,” katanya lagi.

Mantan Gubernur Sulawesi Selatan itu juga menyatakan bahwa pihaknya belum menghitung jumlah kerugian yang bakal ditanggung oleh negara karena demam babi Afrika yang ada di SUmut ini. Syahrul tapi berharap bahwa fenomena ini tidak mengganggu kegiatan ekspor dan impor babi di waktu mendatang. “Katakan lah negara lainnya tak salah prediksi kan bisa jadi berakibat 10 tahun, mereka tidak bisa terima ekspor. Saya berharap tak mengganggu ekspor,” imbuhnya lagi.

Bangkai Babi dilarang dibuang di Sungai dan Jalan

Sebelumnya, babi-babi mati jadi ramai diperbincangkan di Sumatera Utara. Pasalnya bangkai-bangkai babi tersebut dibuang begitu saja, termasuk ke aliran-aliran sungai. Seharusnya masyarakat tak melakukan itu.

Kapolda Sumut, Irjen Agus Andrianto, mengatakan pada pelaku usaha yang mana terindikasi sengaja membuang bangkai babi ke sungai dan juga ke jalan akan ditindak secara tegas dan akan diproses secara hokum langsung. “Jadi, jangan hanya pelaku saja yang membuang saja, namun harapannya pada siapa saja pelaku usahanya juga akan kita proses,’ ungkapnya yang ditemui di Medan hari Rabu (19/120 kemarin.

Pada waktu yang terpisah, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Sumatera Utara mencatatkan sampai dengan Sabtu (7/120 kemarin ada 22.985 ekor babi di Sumatera Utara yang mati karena diduga terjangkit demam babi Afrika itu.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan DKPP Sumut, Mulkan Harahap juga mengatakan bahwa angka 22.985 babi yang mati itu pasalnya tersebar di 16 buah kabupaten yaitu Langkat. Siantar, Tebing Tinggi, Pakpak Bharat, Simalungun, Samosir, Tapanuli Selatan. Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Serdang Bedagai, Toba Samosir, Karo, Medan, Deli Serdang, Humbang Hasundutan, dan Dairi.

Menurutnya, dari 16 buah kabupaten yang mana banyak terjadi kematian babi itu, Deli Serdang lah yang memiliki kasus kematian babi paling tinggi. Tercatat di kabupaten itu ada 6.997 ekor. Sementara yang tercatat kematian babinya paling rendah yaitu di Pematang Siantar yaitu ada sebanyak 12 ekor. Pemerintah berupaya menghentikan demam itu menyebar lebih luas lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *